Minggu, 13 Oktober 2019

Ruang

Aku, di mana?

Sejauh mataku memandang, aku berada di dalam sebuah kubik. Tidak besar, mungkin hanya cukup ditempati olehku dan semua kegelisahanku. Penuh sekat dan keterbatasan. Sepertinya, aku tersesat. Baru saja aku merasakan girang yang teramat, terbawa oleh suasana bahagia yang dihadirkan olehnya. Ya, dia.

Dia yang membawaku berujung pada kehampaan ini.

Dulu, bagiku dunia seperti tak ada batasnya, tak seperti di teori-teori yang kau baca dalam ensiklopedia. Duniaku begitu berwarna. Segala apa yang ada seolah-olah menyaksikan kami berdua selalu bersama. Seakan semesta turut merasakan kebahagiaan itu. Suara air gemericik seakan mengalun bersama angin, begitu merdu. 

Dia, adalah alasan mengapa aku bertahan. 

Mengapa bertahan? Bertahan dari apa? Bertahan dari gejolak dalam diri untuk mengadu. Bertahan karena tau ia butuh. Mengendalikan egoku agar ia menurut untuk tidak meluap-luap. Sebenarnya sederhana. Aku yang selalu berpikir bahwa ia lebih membutuhkanku, sehingga aku berubah menjadi sosok yang diinginkannya. Bukan, bukan aku mengungkit segala kebaikan yang telah tertoreh. Hanya saja, diri ini ingin sedikit dihargai.

Dia, sosok yang punya arti dalam hidup ini.

Bagaimana tidak? Hampir setiap harinya klakson motor berwarna merah itu berbunyi didepan kostku. "Hari ini makan apa kita?" "Ah bosan, jangan yang itu." "Ayo kita pergi jauh-jauh, supaya bisa menikmati perjalanan." Aduhai, begitu romantis bukan? Belahan bumi sebelah mana yang menciptakan lelaki begitu baik dan menyayangi seperti dia? Bahkan, di saat-saat terburukku, dia mampu menjanjikan kehadiran dirinya tepat di sebelahku. Membelai rambut ini dan mengatakan "Everything's gonna be okay."

Jadi, bagaimana bisa aku melihat dia pergi begitu saja tanpa tahu sebabnya? Dia saja, ataukah membawa serta perasaannya untukku?

"Biarlah sejenak, waktu yang akan menjawab."

Waktu?
Waktu yang kami lalui memang terlampau lama. Ah, iya! Barangkali ini menjadi biang keroknya. Sudah hampir 1000 hari kami bersama. Lama sekali, huh? Barangkali pula, aku yang tak bisa sepenuhnya memenuhi keinginannya saat ini. Persis seperti katanya, "Hanya waktu dan jarak yang bisa memisahkan kita." Tepat sekali. Jarak sedang memisahkan kita. Teramat jauh. Mau bagaimana lagi?

"Mungkin hanya perasaan sesaat saja."

Walau sedetik, kau tak tahu bagaimana perasaan ini menghujaniku. Semua pikiran negatif datang dari segala penjuru. Apakah sudah ada tandinganku? Apakah semua kebaikan-kebaikan yang pernah kuberikan tidak ada artinya lagi di matanya? Atau, memang ini akan menjadi akhir cerita? Tenang, aku tak pernah berharap demikian. Aku adalah orang yang selalu percaya bahwa dalam setiap masalah akan ada jalan keluarnya. Tapi, apa kali ini ada?

Ruang ini semakin sempit. Dipenuhi amarah dan kesedihan yang merajalela.

Ruang, ah, ruang.

Aku yang terkurung dalam ruang ini, harus memberi ruang untukmu. Ruang antara kita, yang kelak, bisa menjadi obat dari rindu yang tak kunjung terungkap. Rindu yang justru menjadi bumerang dalam hubungan ini. Pergilah sejauh yang kau inginkan. Gapai semua asa yang tergantung di atas sana. Namun jangan lupa, rumah adalah tempatmu pulang. Pulanglah saat rindu itu ingin kau tumpahkan dengan penuh rasa cinta.

Jika kau sudah kembali, bukalah pintu dari ruangan sempit ini. Aku ingin keluar. Memelukmu erat. Walau sedikit kemungkinan.


Minggu, 05 Mei 2019

Senja Sendu

Aku ingin bertanya, kawan.

Apakah setiap insan diciptakan untuk selalu memberi aksi-reaksi terhadap lawan kita?
atau,
Justru seharusnya kita yang menyesuaikan?

Apakah "Kita harus mementingkan perasaan orang lain terlebih dahulu"?
atau,
"Pedulikanlah perasaanmu! Jangan selalu mengalah!" yang lebih tepat?

Sejujurnya aku bingung,
bimbang,
hampa.

"Ya kan, setiap keputusan yang kita ambil ada konsekuensinya."
Ya, aku tahu.
Aku tahu betul itu.

Tapi, apakah kalian betul betul tahu aku?

Aku memang bukan orang yang pandai mengucap rasa.
Aku lebih baik memendam, karena ku percaya niscaya akan teredam.
Tapi aku terkadang ragu, ini akan berlalu, atau menjadi abu-abu.

Mungkin aneh bagimu, jika aku lebih memilih diam dan melukai perasaanku.
Aku tak mau orang lain bersedih karenaku, jadi biar aku saja yang merasakan pilu.
Walau terkadang memuncak, meluap-luap, menyesal juga - pada akhirnya.
Dan sama saja, orang itu tak akan menyadarinya.

Aku tersesat, kawan.
Jalan manakah yang harus kupilih?

Bintaro, 05 Mei 2019
16.35 waktu bagian pilu
di antara keramaian orang bercengkrama

Jumat, 08 Februari 2019

Ungkapan Rindu

Mungkin, kata orang benar, pertemuan jauh lebih berharga.
Pertemuan membahasakan kata jauh lebih bermakna.
Tatapan mata, cerminan sikap, bahkan, cara dudukmu saja mengartikan sesuatu.
Jauh, jauh lebih baik, ketimbang saat jauh.

Katamu,
"Nanti, kamu jangan telat balas ya! Aku cepat rindu."
Aku hanya bisa tersipu malu, tanpa berani akui bahwa,
"Ya, aku pun, rindu."

Katamu,
"Jaga dirimu baik-baik ya, buat aku."
Tentu saja. Siapa yang berani macam-macam denganmu?
Hohoho, tentu tidak ada. Mereka selalu tahu kau menjagaku sepenuh hati.

Tapi,
Katamu juga,
"Kamu jangan hanya melihat satu sisi saja."
Tidak, aku bahkan menahan untuk menyatakan hal yang tidak kusukai.
Aku takut kamu marah, kemarahan itu menjauhkan kita dari kebaikan.

"Kamu juga sering sibuk."
Barangkali, kosakata yang kau gunakan kurang tepat?
Biar ku koreksi,
"Aku sedang menyibukkan diri, agar tidak rindu berkepanjangan."

Ternyata aku salah.
Barangkali kita memang baik-baik saja. 
Namun ada hal penting yang harus sama-sama dijaga.
Perasaan.
Satu sama lain. Empati tepatnya.

Senja sore kemarin tak seindah biasanya.
Tetap kutunggu hadirnya, namun ternyata tak disambut pula dengan sapaan hangatmu.
Diri ini belum membiasakan diri, sayang. Maukah kau memaafkan hal ini?
Sampai aku bisa menerima bahwa,
Pandangan setiap orang akan sesuatu pasti berbeda. 

Sepucuk surat rindu, 
367 miles below you❤️